storytelling


Bagaimana perasaan kita saat kita tahu bahwa orang yang kita kira tidak peduli sama sekali kepada kita adalah orang yang paling sering menyebut nama kita di dalam doanya?

Bagaimana perasaan kita saat kita tahu orang yang menulis begitu dalam dan indahnya dan kita kira untuk orang lain, ternyata…

:”))


pidi-baiq:

Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah Wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan Perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. Mungkin saja ada tempat yang lainnya, ketika kuberada di sana, akan tetapi Perasaanku sepenuhnya ada di Bandung, yang bersamaku ketika rindu 

pidi-baiq:

Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah Wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan Perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. Mungkin saja ada tempat yang lainnya, ketika kuberada di sana, akan tetapi Perasaanku sepenuhnya ada di Bandung, yang bersamaku ketika rindu 


Tahu sulitnya menjadi aku ketika kau menjadi matahari?

Aku yang mau tidak mau harus bertemu denganmu setiap hari. Meski malam kelam, esok kau pasti datang. Mustahil menghindarimu sekalipun aku pindah ke bulan.

Setidaknya aku belajar banyak hal. Aku belajar bagaimana menghadapimu saat pagi…

:”)



Memilih

Saat kita tidak paham maksud Allah, tetaplah memilih percaya. Saat kita tertekan oleh kekecewaan, tetaplah memilih bersyukur.

Saat rencana hidup berantakan, tetaplah memilih berserah diri. Saat putus asa melingkupi, tetaplah memilih untuk maju.

—Yusuf Mansur


“Allah is never late, He’s just testing your Faith and patience.”
—(via lovemebunga)
“Karakteristik terkuat yang membedakan kaum introver adalah sumber kekuatan mereka: kaum introver mendapatkan tenaga dari dunia yang berisi ide, emosi, dan pengalaman milik mereka sendiri. Kaum introver merupakan penyimpan energi. Mereka bisa menerima terlalu banyak stimulus dari dunia luar dengan mudahnya, yang mengakibatkan mereka merasakan suatu perasaan tidak nyaman dan “sesak”. Perasaan itu bisa berupa kegelisahan atau kebuntuan pikiran. Bila terjadi demikian, mereka perlu membatasi kegiatan sosial mereka agar tidak kehabisan tenaga. Akan tetapi, kaum introver juga perlu menyeimbangkan waktu mereka untuk menyendiri dengan waktu mereka untuk bergaul di luar, kalau tidak mereka akan kehilangan hubungan dan perspektif dari dunia luar. Kaum introver yang mampu menyeimbangkan energi mereka mempunyai ketekunan dan kemampuam untuk berpikir secara mandiri. Mereka mampu berkonsentrasi penuh dan mengeluarkan kreativitasnya.”
—Marti Olsen Laney, Psy.D. (via achmadlutfi)

Kira-kira apa yang diharapkan oleh orang tua terhadap anak-anak seperti kita saat ini. Malas setengah mati. Kuliah sibuk nyari alasan bolos. Sibuk bersedih karena masalah hati yang sebenarnya tidak penting-penting amat untuk dipikirkan saat ini. Ada yang jauh lebih penting sebenarnya. Tapi tetap…


Ngena, banget :”)


Breakaway Theme
Design by Athenability
Powered by Tumblr